Peran Kolektor dalam Perkembangan Bonsai

Peran kolektor ikut, bahkan sangat, menentukan perkembangan seni bonsai. Karena jasa kolektor inilah maka seni bonsai menjadi karya yang menarik dimiliki sebagai koleksi yang berharga. Bonsai sebagai karya seni menjadi eksklusif, yang tidak bisa begitu saja dinilai dengan uang berapapun.

Tidak banyak penggemar bonsai yang berani memposisikan dirinya sebagai kolektor. Salah satu syaratnya tentu harus memiliki dukungan finansial yang memadai. Namun yang sesungguhnya tidak kalah penting adalah kecintaan yang sangat tulus pada seni bonsai. Karena adanya kecintaan itulah yang menjadikan bonsai bukan dipandang sebagai barang dagangan, melainkan karya seni yang tak ternilai harganya.

Disamping itu, seorang kolektor juga ditantang untuk memiliki pengetahuan yang mumpuni dalam seni bonsai, sehingga mereka paham betul mana bonsai yang bagus. Syukur kalau pemahaman ini juga disertai dengan kemampuan melakukan traning sendiri. Realitanya, memang sangat langka kolektor yang juga trainer.

Lebih-lebih karena persoalan waktu yang menjadikan mereka tidak memungkinkan melakukan training sendiri.
Tapi paling tidak, seorang kolektor tidak gagap berdiskusi dengan trainer untuk memprogram bonsai koleksinya sendiri. Syarat yang paling minim, kolektor tentu harus paham hortikutura, agar bonsainya menjadi barang indah yang sekaligus hidup sehat sebagaimana tanaman lainnya.

Satu hal lagi, karena jasa kolektor ini pula yang menimbulkan dampak positif dalam bisnis bonsai. Tak heran kalau para pedagang dan pemburu selalu mengincar kolektor sebagai sasaran bisnis mereka. Dan itu sah-sah saja. Justru karena itulah maka dunia bonsai menjadi bergairah.

dr Tri Djoko Endro Susilo, Sp PK adalah seorang dokter ahli patologi klinik yang saat ini dikenal sebagai salah satu kolektor bonsai di Jogjakarta. Bapak satu anak ini mengaku bukan ahli soal bonsai, namun kecintaannya yang sedemikian rupa pada seni bonsai menjadikan dirinya rela mengoleksi ratusan bonsai. Sejumlah sekitar 85 bonsai ditempatkan di atas atap rumahnya, sebagian besar lagi dititipkan pada Montid, seorang aktivis seni bonsai yang tinggal di kawasan Prambanan.

Karena motivasinya bukan pada bisnis, maka alumnus Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta tahun 1992 ini hanya mengejar kepuasan tersendiri dalam aktivitasnya dalam dunia perbonsaian. Beberapa kali pameran yang diikutinya, juga semata-mata demi mendapatkan kepuasan tersendiri. Meskipun, dia punya kesan bahwa penilaian dalam pameran masih mengesankan subyektivitas.
“Yang tampil sebagai pemenang kadang-kadang bukan yang terbaik,” ujar lelaki asli Solo yang lahir Malang 10 Juli 1965 ini.

Namun, dia buru-buru menambahkan, “tetapi saya bukan pakar bonsai lho, hanya belajar dari buku dan pengalaman pribadi.” – hnc

(Majalah JELAJAH BONSAI edisi 01 – 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: