Komunitas Lintas Batas:Melawan Arus Anthurium

Salah satu kelebihan dunia perbonsaian di Jogjakarta adalah tumbuhnya berbagai komunitas sesama penggemar bonsai. Ketika banyak orang tergila-gila dengan anthurium beberapa waktu yang lalu, di Jogjakarta malah tumbuh komunitas penggemar bonsai. Namanya Komunitas Lintas Batas, yang berada di dekat terminal bus Jogjakarta. Dibawah kordinasi Inspektur Polisi Wisnu Jakasaputra, di komunitas inilah bergabung para penggemar bonsai yang berlatar belakang mekanik otomotif, crosser, pekerja IT, pedagang, pelukis, pematung bahkan yang belum punya pekerjaan tetap.

Meski demikian, Wisnu yang bertugas di Biro Personalia Polda DIY ini tidak mau menonjolkan diri “Bonsai adalah wujud pemberontakan terhadap kegilaan masyarakat terhadap anthurium,” kata polisi yang telah menyelesaikan pendidikan sarjana S-2 di UPN Veteran Jogjakarta ini.

Menurut bapak satu anak ini, waktu itu bisnis anthurium sudah tidak sehat lagi. Bisnis tanpa akar. Ketika orang banyak meninggalkan bonsai, Wisnu dan komunitasnya malah ngopeni (mengurus dengan serius). Mereka tidak silau sedikitpun dengan gemerlap anthurium yang menghasilkan puluhan juta rupiah.

Menurut lelaki kelahiran Sragen, 13 Januari 1977 ini, bisnis anthurium waktu itu tidak realistis. Dikaji dari analisis intelejen ekonomi, itu bisnis semu, Yang betul-betul riil hanya sekitar 10 persen. Sudah diprediksi bakal ambruk. Meskipun, waktu itu dia malah ditertawai dengan komentar yang seperti itu.

Sekitar 250 bakalan bonsai tersimpan di halaman belakang rumah Wisnu, yang dijadikan markas komunitas ini. Tidak ada motivasi untuk menjual. Karena bonsai adalah sarana persahabatan untuk mengeratkan hubungan manusia dari berbagai profesi, usia, agama dan latar belakang pendidikan. Karena itu Wisnu prihatin kalau ego ditonjolkan. Jangan sampai hanya karena bonsai maka tidak saling menyapa.

Biarkan bonsai berkembang dalam suasana yang santun. Mau mengkritik juga harus dilakukan dengan santun. Jika semua sudah sama persepsinya, maka bonsai akan berkembang dalam keragaman pendapat masing-masing orang. Bonsai harus bisa menjembatani antar individu. Konflik memang dibutuhkan, namun bagaimana caranya bisa berbeda tanpa konflik yang destruktif.

Bukan hanya diskusi bonsai yang sering digelar, melainkan telah tercipta suasana kekeluargaan sedemikian rupa. Sebut saja Lintang, perempuan anggota komunitas ini, merupakan sosok yang langka di dunia bonsai. Pekerja di seputar teknologi informasi ini konon menyukai bonsai yang dramatis, sehingga menciptakan tantangan tersendiri. Menurutnya bonsai lebih menarik dibanding tanaman biasa. Ada sesuatu yang tidak biasa pada bonsai. Masih ada dua perempuan lain yang juga terlibat di sini.

Juga Roni (30 tahun), seorang mekanik mobil yang mengaku menyukai bonsai biasa saja, namun mendapatkan banyak hal justru diluar bonsai ketika bergabung dengan komunitas bonsai. Roni menyebut Wisnu sebagai sosok yang mahir mengelola SDM. Diskusi dilangsungkan bukan hanya soal bonsai, namun melebar ke masalah sosial, dan juga pribadi. Selama setahun bergabung, dari beberapa orang, belasan orang hingga sekarang puluhan orang bergabung di komunitas ini. Wisnu disebutnya ibarat seorang guru.

Bagi Alan Arif, profesinya sebagai pelukis malah mendapatkan tantangan tersendiri dalam komunitas bonsai ini. Dia merancang bonsai dalam bentuk sketsa lebih dulu, kemudian didiskusikan. – hnc

(Majalah JELAJAH BONSAI edisi 01 – 2010)

2 Responses

  1. Kalau betul mau santun dalam mengkritik, kenapa harus menyebutkan “pemberontakkan” kepada para penggemar anthurium? mereka juga boleh dan sah sah saja kok menggilai dunia nya.
    kalau anda mengatakan “pemberontakkan” kepada penggemar anthurium, berarti anda juga sudah tidak bisa santun dong? Bingung jadinya, mana yang sih yang asalnya kata kata dari hati?

  2. Kalau betul mau santun, kita tak perlu mencampuri apakah bisnis itu realistis atau tidak, biarkan mereka dengan maunya sendiri selama itu tidak merugikan negara dan masyarakat. Terlepas dari intelijen ekonomi (Kata ini malah lebih banyak orang yang tidak tahu…yang orang tahu sekarang adalah masalah kasus hukum atau markus di kepolisian), maka dari itu kita ga perlu ngurusin bisnis orang. Biarkan orang lain untung dengan caranya sendiri, yang penting negara ini aman dan masyarakatnya juga makmur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: