Ir. Bambang Subiandono, Dipl Ing: Biarkan Bonsai Bicara

Bonsai yang bagus manakala bisa bicara sendiri mengenai jatidirinya. Sebab pada dasarnya setiap pohon memiliki karakternya sendiri, dan akan terus terbawa ketika menjadi bonsai. Maka seorang seniman bonsai tidak bisa memaksakan kehendaknya sesuka hati. Seniman bonsai musti memahami bagaimana karakter pohon dan menghadirkannya dalam karya bonsai yang indah.

Bambang Subiandono, yang mengatakan hal itu, berdasarkan pengalamannya merawat bonsainya sendiri. Tenaga ahli sumberdaya air ini memiliki ribuan bonsai dari berbagai jenis yang variatif di kawasan Monumen Jogja Kembali (Monjali) untuk pembesaran. Sedangkan bonsai-bonsai setengah jadi atau yang sudah jadi ditata dengan rapi di rumahnya, Perum Nandan Idaman 145 Yogyakarta. Kalau toh koleksinya ada yang dijual, tidak ada target harus laku. “Tidak laku ya gak masalah,” ujarnya santai.

Mulai hobi bonsai sejak tahun 1990-an, Bambang lebih suka melakukan training sendiri, meski kesibukannya juga seolah tak kenal waktu senggang. Karena itu, dia suka dengan bonsai yang masih setengah jadi, lantaran menghadirkan tantangan untuk menggarapnya sampai dianggap jadi. Bonsai menuntut hak untuk diperlihara dengan baik. Penggemar bonsai memiliki tanggungjawab untuk membuatnya tetap hidup, karena sudah mencerabut dari habitatnya yang alamiah dipindah ke lingkungan manusia.

Merawat bonsai dilakukan sebagai selingan di tengah kesibukannya yang menumpuk. Karena sejak kecil memang sudah suka dengan alam. Maka mencintai alam, sudah menjadi filosofinya hingga kini. Bahwa manusia diturunkan ke muka bumi adalah sebagai khalifah, yang harus menjaga alam, tak boleh merusaknya. Bahwa alam raya ini juga mahluk hidup. Bahkan gunungpun juga ada rohnya. Bukan sekadar benda mati. Manusia harus merasa ada hubungan timbal balik. Terjadinya bencana alam itu karena adanya ketidak-seimbangan dalam hubungan timbal balik tersebut. Bahwa alam sedang protes, tidak semua manusia bisa merasakan.
Bapak dua anak dan kakek dua cucu ini percaya, bahwa setiap tanaman itu memiliki karakternya sendiri. Karena itu cara perawatannya juga berbeda-beda. Kita harus tahu persis bagaimana memperlakukan tanaman saat kemarau misalnya. Sementara ketika musim hujan, biasanya tanaman rentan penyakit, banyak binatang yang muncul, seperti ulat, kupu atau bahkan kwangwung.

Pohon iprik misalnya, kalau tak ketahuan dalam semalam saja langsung habis dimakan ulat. Kita juga harus tahu bahwa Mustam itu rakus makanan. Jika medianya tidak subur dan tidak diganti, maka batangnya mudah keropos. Kawista, dikenal sebagai tanaman yang bandel, tahan kekurangan air, makin kering medianya malah makin bagus, asal tidak sampai kekeringan dan akhirnya mati. Rata-rata tanaman berduri tahan kekurangan air.
Demikian pula Wahong, juga dikenal rakus makanan. Medianya harus sering diganti, harus dilakukan repotting. Penyakitnya adalah semacam jamur putih yang muncul di celah-celah batang. Harus rajin mengamati, dan kemudian membersihkannya dengan sikat. Kalau perlu, disemprot dengan pestisida dicampur sabun cuci. Campuran ini juga dapat digunakan untuk memberantas kutu di bonsai beringin.

Karena tanaman memiliki karakter itulah maka seorang trainer tidak bisa memaksakan kehendaknya untuk menjadikan bonsai sesuai kehendaknya. Seringkali muncul titik tumbuh di bagian yang tidak diinginkan. Adanya titik tumbuh ini menunjukkan jalur makanan. Kadang pertumbuhan yang semula tidak dikehendaki ini justru memberikan karakter tersendiri. Kalau mau tumbuh sesuai keinginan, bisa dilakukan dengan sistem tempel mata tunas.

Pada prinsipnya, “bagaimana mengolah tanaman dari alam dengan sesedikit mungkin mengubah karakternya. Apa yang dirasakan “enak” dari karakter aslinya, sebaiknya diikuti saja,” ujar ahli persungaian, yang pernah bekerja di Direktorat Sungai Departemen Pekerjaan Umum dan mengajar sumberdaya air di ITB ini.
Pada dasarnya Bambang menyukai semua jenis tanaman. Jangan paksakan training ketika kondisi tanaman sedang tidak subur. Mungkin sedang sakit. Kalau dipaksa training, bisa jadi malah mati. Training harus dilakukan ketika pohon dalam keadaan sehat, tumbuh subur, sehingga memiliki daya tahan yang cukup. Karena pada dasarnya, pohon itu mengalami kesakitan ketika detraining. Seperti kalau kita habis operasi. Jadi, jangan panaskan pohon seusai training, karena akan mengganggu pertumbuhan ranting, bahkan ranting-ranting akan ada yang mati.

Demikian pula pruning, harus dilakukan seimbang antara dedaunan dan perakaran. Tidak harus pruning dilakukan dengan menghabiskan semua dedaunan. Tergantung jenis tanamannya. Kalau tanaman yang daunnya sulit tumbuh, sebaiknya sisakan sebagian. Atau, diguntingi saja daunnya sehingga menjadi kecil-kecil. Lohansung misalnya, tidak bisa dilakukan pruning sampai daunnya habis. Kalau santigi, bisa fifty-fifty. Harus disisakan sebagian daunnya untuk memancing aliran makanan dari akar. Ada baiknya, pruning juga dibarengi dengan repotting. – hnr

(Majalah JELAJAH BONSAI edisi 01 – 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: