Syamsul Bachri, Batu: Belajar Bonsai Seperti Kungfu

Belajar bonsai itu seperti belajar kungfu. Kita harus menguasai dasar kuda-kuda yang kuat. Karena bonsai itu seni, maka istilah-istilah seni harus dikuasai. Selain itu, harus sering mengerjakan sendiri, bukan hanya sekadar baca buku.

Menurut Syamsul Bachri, dasar-dasar parameter bonsai sebagai karya seni meliputi flow, komposisi, dimensi atau kedalaman dan keseimbangan (balance). “Keempat unsur ini harus dikuasai manakala ingin membuat bonsai yang bagus,” ujar mantan anggota Dewan Juri yang mengundurkan diri ini.
Meski demikian, menurut Syamsul, tidak ada pakem dalam dunia bonsai. Apa yang disebut-sebut sebagai aturan membuat bonsai itu hanya semacam panduan untuk membuat bonsai yang baik. Tetapi bukan hanya itu satu-satunya panduan. Tergantung bonsai bagaimana yang hendak dibuat. Kalau toh harus disebut pakem, paling-paling syarat bonsai hanyalah berupa pohon yang berbatang keras, berumur panjang, berdaun kecil atau dapat dikecilkan.
Tetapi sebagai pohon yang hidup, menurut mantan ketua PPBI Cabang Malang ini, seorang pembonsai juga harus menguasai aspek teknisnya atau nonseni. Seperti misalnya melakukan pengawatan (wiring), pruning, tracking sampai dengan potting. Yang harus diperhatikan, bahwa kesan alami itu penting. Bahwa alam memang guru terbaik untuk belajar bonsai. Fenomena alam memang tidak salah.
Apakah bonsai dapat menjadi budaya Indonesia? “Sulit. Kecuali ada bonsai Indonesia yang juara dunia, atau ada senimannya yang menonjol,” jawab Syamsul.
Harus diakui, tambahnya, bahwa bonsai bukan budaya Indonesia. Asal usulnya memang dari China, kemudian dikembangkan di Jepang. Belakangan China malah belajar dari Jepang. Ini karena karya bonsai China tidak ada yang bagus. Semua negara belajar bonsai dari Jepang, termasuk Indonesia. Jepang memang kiblatnya bonsai. Kita musti salut. Bisa menyamai saja sudah bagus. Meskipun, kita juga harus obyektif, bahwa tidak semua bonsai Jepang musti bagus.
Ketika kemudian bonsai sering disebut-sebut sebagai karya seni, ada istilah bonsai kontemporer. Meskipun, dari segi fisiknya, bonsai yang belakangan disebut kontemporer itu memang sudah ada sejak dulu.
Kata Syamsul, orang sering salah kaprah, menyebut bonsai kontemporer sebagai bonsai yang di-jin atau ditekuk-tekuk. Seharusnya, disebut kontemporer itu manakala terdapat perubahan drastis dari bentuk asalnya. Betul-betul ekstrim. Kalau perlu belajar pada Kimura, yang mampu menjadikan bonsai berubah secara total, dari awal hingga akhir. Itulah namanya kontemporer.
Junipers adalah jenis pohon yang ideal untuk ditekuk-tekuk kalau hendak membuat bonsai yang ekspresionis. Meski demikian, Syamsul lebih tertarik dengan bonsai gaya lama, seperti Chinensis gaya chokkan. Atau juga, Chinensis dengan gaya windswept.
Mengaku sebagai perintis pusat bonsai di Pluit, Jakarta, bersama dengan Kuswanda, Syamsul sekarang lebih suka menenangkan diri di Batu, sebuah kota wisata di perbukitan. Dia membina Paguyuban Bonsai Kota Batu, yang kini punya anggota sekitar 50-an. Sudah dua kali pameran. Pertama di hotel Purnama, dua tahun lalu, diikuti 200 peserta, kelas Jadi dan Prospek. Pameran kedua di Balai Desa Punten, akhir Maret lalu. – hnc

(Tabloid Go Green edisi 7/2009)

2 Responses

  1. Saya peminat bonsai

  2. Maaf ada yg tau alamat PPBI Jakarta nggak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: