Revolusi Bonsai dari Baturetno

Dunia perbonsaian Indonesia sedang mengalami revolusi. Perubahan drastis itu muncul dari Baturetno, sebuah desa kecamatan di kawasan Wonogiri, Jawa Tengah. Dan pemain utama dari revolusi itu bernama wahong laut.

Pada mulanya, Didick Picko dan kawan-kawannya membuka stand bursa di pameran nasional bonsai yang diselenggarakan bersamaan Munas PPBI di Surakarta, Juni tahun yang lalu (2007). Beragam bakalan bonsai dibawanya, seperti serut dan asam Jawa. Rata-rata tumbuh atau dicengkeram batu keras. Waktu itu, mereka beranggapan bahwa bonsai yang tumbuh di batu itu pasti laku mahal.

Ternyata anggapan itu salah. Meski dipatok harga mahal, lantaran beaya operasionalnya yang lumayan besar, namun kualitasnya tidak menarik. Maka seorang Robert Steven, justru lebih tertarik dengan bakalan wahong laut yang sepintas jarang diperhatikan orang. Maklum postur batangnya meliuk-liuk tak beraturan, dianggap tidak mengesankan dan tidak bakal menarik sebagai bonsai yang bagus. Agaknya Robert sudah punya impian tersendiri tentang wahong ini. Tidak kurang dari 20 bakalan wahong diborongnya saat itu juga.

Robert yang memiliki jaringan luas di mancanegara segera mempromosikan wahong ini. Tak pelak, ketika Picko dan kawan-kawannya membuka kembali stand bursa di Sanur Bali, September 2007, bakalan wahongnya laris manis. Para peserta konvensi ASPAC dari berbagai negara itu sangat terpesona dengan wahong laut. Sejak itu ekspor wahong laut ke beberapa negara terus berlangsung dari Baturetno, Wonogiri.

Para pemburu bonsai di Baturetno pun mulai menata diri. Picko membriefing mereka, bagaimana mencari bakalan yang bagus, agar tidak sia-sia ketika sudah membawanya dari tempat yang sulit. Memang tidak gampang mencari wahong di tebing-tebing curam. Beruntung mereka telah berpengalaman mencari sarang walet. Biasanya, mereka membuat satu grup pencari, kemudian hasilnya ditampung jadi satu, dan ditawarkan pada pembeli dengan system borongan. Ini untuk menghindari bakalan yang kurang bagus akan terbuang.

“Dan sekali borong, bisa mencapai 4 truck sekaligus,” tutur Picko, yang kemudian dikenal sebagai pengepul bakalan wahong yang sukses. Meski rejekinya melimpah dari wahong, namun Picko sebelumnya sudah menekuni bisnis air minum hingga sekarang, serta membuka bengkel karoseri mobil.

Jejak Picko ini kemudian diikuti oleh Kandar, Sugeng, Nurdin yang masih aktif menjadi guru, Sularto yang juga membuka usaha bengkel, Joko Wiyadi, Pamekas, Budi yang juga membuka usaha terapi kesehatan, Alfon dan beberapa nama lagi.

Menurut Makhfudh, ketua PPBI Wonogiri, booming wahong terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan petani yang selama ini hanya mengandalkan sawah tadah hujan. Bahkan, lahan pekarangan yang tidak produktifpun kini menjadi tambang emas sebagai kebun bakalan wahong. Jauh lebih menjanjikan ketimbang tanaman pangan. Pensiunan pegawai PT Pusri ini ikut menekuni bisnis wahong, disamping ternak perkututnya yang masih jalan.

Dan meski sangat sulit mencari wahong, beruntung belum ada korban yang jatuh dari tebing misalnya. Selalu ada bagi tugas, bahwa hanya yang ahli panjat tebing saja (dari pengalaman mencari sarang wallet) yang langsung mendongkel wahong dari habitatnya. Dapat dibayangkan, tebing yang tegak 90 derajat itu, wahong ada yang tumbuh di cekungan di bawahnya.

Harga bakalan wahong berkisar Rp 50 ribu hingga Rp 2-3 juta, namun harus beli semuanya. “Tapi saya pernah membeli Rp 6 juta, karena barangnya memang bagus dan sudah banyak diincar penghobi luar kota,” ujar Picko. Toh dalam tempo tak terlalu lama, ada pembeli lagi yang sanggup menggantinya sekitar 4 kali lipat harga awal.

Dampaknya, belakangan ada beberapa petani mulai “jual mahal”. Padahal soal harga, bukan ditentukan jenis pohonnya, melainkan kualitasnya. Sementara yang disebut berkualitas bagus itu masih belum dipahami sepenuhnya.

Maka ketika sekarang wahong menjadi bintang dalam perbonsaian, revolusi itupun tak bisa dielakkan lagi. Bonsai ideal, sudah bergeser, dari beringin, serut, santigi, kini berganti menjadi wahong laut. Sampai kapan hal ini berlangsung? Bagaimanapun potensi alam ada batasnya. Kalau wahong di tebing-tebing itu diambili terus, suatu ketika akan habis juga. Kesadaran ini sudah dimiliki Kandar, yang mulai membudidayakan wahong dengan cara setek.

Sekarang memang Baturetno yang jadi sasaran. Bukan tidak mungkin pemburu akan mengalihkan daerah lain sebagai sasarannya, sebagaimana mereka berburu santigi. Selama ini santigi masih jadi idola dari perburuan di alam. “Memang ada wahong, tapi malas mengambilnya,” ujar seorang pemburu. Wah. – henri nc

(Dimuat di majalah Green Hobby edisi XIII/2008)

2 Responses

  1. saya punya pohon serut tanaman rumah mau dijual dengan lebar pohon 2,30cm (lebar pohon 2meter lebih)
    klu mau hub:081805116100

  2. mangkane to …. barang apik2 mbok guwaki nang Peru… Kene ra kumane opo-opo … syukur ……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: