Pemenang Ditentukan Pengunjung

Pameran Bonsai di Lamongan

Apa jadinya jika pemenang pameran bonsai dipilih oleh pengunjung? Boleh jadi juri bonsai geleng-geleng kepala karena hasilnya diluar pakem yang mereka anut. Namun itulah realitanya. Bahwa masyarakat memiliki persepsinya sendiri mengenai bonsai yang baik.

Dalam pameran bonsai di alun-alun Lamongan (3-12/6), terbukti tanaman bambu kuning ternyata terpilih menjadi bonsai terbaik kedua pilihan pengunjung. Dalam kontes bonsai yang diselenggarakan PPBI misalnya, tanaman ini dipastikan bakal tak ditoleh oleh juri. Nampaknya, aspek keunikan menjadi daya tarik utama bonsai koleksi Sumari ini. Banyak pengunjung yang mengagumi, memotret, dan berlama-lama menatap sosok bambu yang di habitat aslinya tumbuh besar ini.
Selain keunikan, persepsi umum terhadap bonsai juga masih mirip-mirip dengan hasil pameran bonsai yang terjadi selama ini. Kemenangan Iprik koleksi Julianis Deke misalnya, tak luput dari pesonanya yang tampil formal seperti beringin kurung yang setingkali terlihat di areal publik. Bahwa bonsai yang baik itu, adalah yang tampil seperti miniatur pohon aslinya. Barangkali begitulah pandangan masyarakat sehingga akhirnya peserta nomor 49 ini mendapat suara terbanyak.
Namun yang menarik, posisi ketiga justru ditempati oleh Santigi yang bergaya cascade (menggantung). Lagi-lagi faktor unik yang menarik perhatian pengunjung. Jika bonsai yang lain menggunakan dua pilar yang ditumpuk, maka khusus Santigi yang satu ini membutuhkah tiga pilar supaya juluran rantingnya tidak sampai menyentuh tanah. Karuan saja penampilannya menjadi yang paling tinggi di antara peserta lainnya.
Tidak ada yang salah dengan pilihan pengunjung. Model penilaian seperti ini juga sah-sah saja. Toh penilaian versi juri PPBI bukan menjadi satu-satunya parameter yang paling berhak mengklaim bonsai terbaik. Bukankah hasil penilaian kontes bonsai selama ini juga masih berbuah kontroversi?
Hanya saja, nampaknya Paguyuban Penggemar Bonsai dan Tanaman Hias Lamongan sebagai penyelenggara, nampaknya masih belum cukup pede (percaya diri). Maklum, ini memang event pertama yang digelar lumayan besar, diikuti 100 bonsai dari seluruh penjuru Lamongan. Sebelumnya, pernah diadakan di kawasan Tanjungkodok, yang diikuti beberapa kecamatan sekitarnya.
Beberapa bonsai lain yang juga menarik misalnya, Seribu Bintang koleksi Wahyudi, yang tampil dengan sosok batu besar di sampingnya. Jika diperhatikan seksama, keberadaan batu ini semakin menguatkan kesan pohon itu tampak kecil. Meskipun, bisa saja tanaman ini berdiri sendiri tanpa batu. Namun batu itu justru menambah nilai keunikannya.
Demikian pula bonsai Phong koleksi Isnomo. Batangnya yang hitam dan kering itu tampil meliuk membuat ritme tersendiri. Hanya sayangnya, dengan kondisi batang yang seperti itu perantingannya justru terlalu rimbun. Sepertinya kurang alami. Atau, apakah justru di situ letak keunikannya?
Bicara soal unik, yang sebetulnya tampil paling unik adalah Sisir Kristata koleksi Mudhofir. Ujung batangnya yang membelah jadi dua, melengkung membentuk huruf 0, menjadikan bonsai ini tampil sangat unik. Namun keunikan saja memang tidak cukup. Apalah artinya unik kalau ternyata tidak tampil artistik.
Hasil penilaian selengkapnya adalah, bonsai favorit dimenangkan oleh Iprik (nomor 49) koleksi Julianis Deke, Lamongan, disusul Bambu Kuning (nomor 26) koleksi Sumari, ds Sendang, dan Santigi (nomor 1) koleksi Anik, Karanggeneng. – henri nc

(Majalah GREEN Hobby No 11 – 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: