Pemburu Ikut Tentukan Masa Depan Bonsai

Kalangan pemburu bonsai memiliki andil yang besar dalam menentukan masa depan bonsai Indonesia. Karena itu mereka perlu terus menerus memperluas wawasan, dan meningkatkan pengetahuan mengenai bonsai.

Hal ini disampaikan oleh Wahjudi D. Soetomo dalam pertemuan bulanan yang diselenggarakan oleh PPBI Cabang Probolinggo di rumah Kian Fuk, Kraksaan, Minggu (29/6). Lebih dari 60 orang penggemar bonsai dari Probolinggo, Situbondo dan Bondowoso yang hadir di ruang pertemuan khusus yang ada di tengah kebun bonsai itu. Selain Wahjudi, tampil sebagai pembicara adalah Sigit Margono, pengajar seni patung dari Malang, dan juga Sulistiyanto Suyoso, yang memberikan demo training bonsai.
Ketika diajukan pertanyaan siapa yang menjadi pemburu bonsai, memang banyak yang mengacungkan tangan. Itu sebabnya Wahjudi lantas memberikan pesan khusus pada para pemburu itu. Sebab, selama ini masih ada saja pemburu yang asal menjebol bonggol pohon dari alam bebas. Mereka tidak memperhitungkan apakah bonggol tersebut memang berkualitas sebagai bakalan bonsai.
Bahkan ada anggapan bahwa bonsai yang tumbuh di atas atau terjepit batu itu dianggapnya sebagai bonsai yang berkualitas. Mereka dengan susah payah memecah bongkahan batu hanya demi mendapatkan bakalan bonsai yang dikiranya bisa dijual mahal. Padahal, nilai bakalan tersebut boleh dikatakan rendah. Dan ketika ditanya soal harga, lantas mematok angka jutaan rupiah. Tentu saja, penggemar bonsai yang paham akan keberatan membelinya.
Bakalan bonsai yang seperti itu memang simalakama. Mereka menawarkan dengan harga mahal karena mencarinya memang susah, butuh biaya yang tidak sedikit dan waktu yang lama. Tetapi, soal harga tentunya tidak terkait dengan hal itu semua. Harga bonsai tetap ditentukan oleh kualitasnya. Belum lagi alam yang sudah terlanjur rusak akibat pendongkelan bakalan bonsai yang akhirnya terbuang sia-sia itu.
Lantas, bagaimana dapat mengetahui bakalan bonsai itu memiliki kualitas bagus atau tidak? Pertanyaan ini masih sering muncul dari kalangan penghobi pemula. Sulistiyanto menjawab, “yang penting bakalan itu dipastikan dapat hidup lebih dulu.” Percuma saja punya bakalan bagus kalau ternyata hanya untuk meneruskan hidupnya di pot ternyata gagal.
Disamping itu, kata Sulis, perhatikan bentuknya, arah geraknya atau ritme, dan juga karakternya. Ada bonsai yang memiliki karakter keras, namun ada yang lembut. Kesemuanya ini memang membutuhkan kepekaan seni tersendiri. Ada semacam sense untuk dapat mengetahui apakah bakalan tersebut indah atau tidak. Bukan hanya sense, namun juga talenta (bakat) dan wawasan dari seniman bonsainya.
Meskipun, apapun bentuk bakalannya, seorang seniman bonsai serasa mendapatkan tantangan tersendiri untuk menjadikan bonsai yang indah. Hanya saja, kalau dari bentuk alamnya sudah bagus, maka untuk menjadi indah hanya perlu sedikit asesori saja.
Dicontohkannya, kalau ada bakalan bonsai yang lurus menjulang bagaikan orang berdiri tegak, maka yang menjadi perhatian adalah wajahnya. Bukan berarti bakalan yang seperti itu tidak bisa dibuat menjadi bonsai yang bagus. Bagaimana kalau pose-nya dibuat agak miring sedikit. Kemudian ibarat ada gerak tangan ke samping seperti orang berpose untuk berfoto. Gerakan tangan (baca: cabang atau ranting) itu sudah menimbulkan ritme tersendiri. – henri nc

Dari Majalah GREEN Hobby No 12 – 2008

2 Responses

  1. Lha ini saya baru setuju, kadang ada orang bonsai yang dengan entengnya bilang bonsai ini jelek itu jelek, menurut saya bonsai itu kaitannya dengan hati jadi buat yang beli bakalan atau cari dari alam ( asal tidak merusak lingkungan ), kalau ada yang komentar miring cuek aja… jadikan diri anda adalah inspirasi buat diri anda sendiri, kecuali kalau anda mau ikut lomba PPBI itu jelas ada aturannya, kalau mau anda nikmati senriri, saya pikir bebas bebas aja, mau gaya tegak lurus ( lontongan gitu ) mau dibilang jelek ya biarin aja yang penting kita suka……bagaiman pak betul gak….

  2. Memburu bonsai sah-sah saja, asal kita menganti pohon apa saja yang kita gali agar tidak terjadi ketandusan alam ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: