Menundukkan Bonsai Sulit

Bonsai santigi milik Kian Fuk itu memang sepintas tak beraturan bentuknya. Cabang-cabangnya meliuk-liuk ke segala arah. Sulit menerka “apa maunya” bonsai ini. Namun justru itulah yang menjadi tantangan tersendiri.

Dalam pertemuan rutin PPBI Cabang Probolinggo beberapa waktu yang lalu, Sulistiyanto Suyoso diminta melakukan demo training terhadap bonsai sulit tersebut. Nyaris tanpa persiapan sama sekali. Hanya ada waktu beberapa menit untuk “membaca” bonsai tersebut. Maka ketika Sulis melakukan traning, lelaki yang sering dipanggil “Sulis Ninja” itupun mengalir saja. Dia malah menciptakan ruang dialog sehingga proses training itu menjadi interaktf.
Dari beberapa cabang yang tak beraturan itu, kemudian dipilih yang kira-kira dapat dijadikan andalan untuk menuju gaya cascade alias menyerupai air terjun. Maka dilakukan simulasi dengan cara menjungkirkan pot ke arah miring, sehingga dapat diperkirakan bentuk yang hendak dituju. Kemudian, pohon dijebol dari medianya, pot dikembalikan ke posisi semula, tapi pohon digulingkan sehingga bagian belakangnya terangkat sampai kelihatan akarnya.
Dahan yang dianggap menghalangi kesan air terjun itu dibabat habis. Sengaja fokus diarahkan pada satu cabang utama. Persoalannya, cabang yang dijadikan andalan itu terlalu meliuk-liuk, sampai arahnya masuk kembali ke arah dalam pot. Seorang peserta diskusi langsung berkomentar, “apa arah cabang itu tidak terlalu masuk?”
Sulis setuju, langsung bonggol pohon yang sudah terjungkir itu sedikit dikembalikan lagi arahnya sehingga arah cabang utama itu tidak melewati garis vertikal batas pot.
Menurut Sulis, “saya senang kalau dikritik.” Maka dikisahkan, ketika usai melakukan training bonsai, dia sengaja meminta pendapat orang awam yang sama sekali tidak paham bonsai. Dikatakan, pernah ada langganan pijatnya yang iseng-iseng mengamati bonsai koleksi Sulis. Ketika dimintai komentar, si Tukang Pijat itu hanya berkata, “saya tidak mengerti bonsai Pak, tapi menurut saya ada yang kurang enak dilihat.”
Sulis penasaran, “yang gak enak itu apanya,” sergah Sulis.
“Tidak tahu Pak, pokoknya gak enak.”
Sulis mengalah, sambil memandangi serius bonsai yang katanya “tidak enak” itu. Selang beberapa lama, ternyata ditemukanlah penyebabnya. Memang ada cabang yang mengganggu. Kemudian Sulis membuat simulasi menutupi dengan sobekan koran, dan bertanya kembali pada si pemijat itu. “Nah, itu baru enak Pak,” ujarnya.
“Kenapa gak bilang dari tadi,” canda Sulis.
Begitulah, memang tidak selalu orang yang pinter sekalipun pasti bagus hasilnya ketika melakukan proses training bonsai. Pendapat orang awam diperlukan untuk kontrol dan mengambil jarak dari diri sendiri.
Terhadap bonsai yang “sulit” itu tadi, Sulis menyampaikan di depan anggota PPBI Probolinggo, bahwa jangan takut melakukan eksperiman. Jangan takut ditertawakan orang lain karena bonsainya dianggap aneh.
Soal “keanehan itu, pada bonsai santigi milik Kian Fuk itu, Sulis sengaja memperlihatkan akar yang keluar dari medianya. “Malah saya punya angan-angan membuat bonsai dengan akar terbalik, kemudian kembali ke bawah membentuk seperti kurungan,” ujarnya. – henri

(Majalah GREEN Hobby, No 12 – 2008)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: