Penilaian Bonsai Menurut Seniman

Selama ini bonsai diklaim sebagai karya seni, khususnya seni rupa. Itu sebabnya menyebut bonsai selalu dengan tambahan kata seni di depannya. Tapi, bagaimana pandangan seniman sendiri terhadap seni bonsai? Maka tiga seniman yang terdiri dari pematung, pelukis dan fotografer diminta secara khusus oleh PPBI Sidoarjo melakukan penilaian dalam Pameran Apresiasi Bonsai.

Ternyata, dari 103 bonsai yang dipamerkan, terpilih oleh tiga seniman tersebut sebanyak 25 bonsai. Tiga seniman itu adalah; Rudi Isbandi (pelukis), Sigit Margono (pematung) dan Wayan Setiadarma (fotografer). Masing-masing memilih 10 bonsai, kecuali Sigit yang hanya “menemukan” 9 bonsai. Dari 25 bonsai yang terpilih itu, hanya 4 (empat) bonsai yang dipilih oleh dua pengamat. Yang lain, masing-masing hanya mendapatkan apresiasi dari 1 pengamat.

Sepintas, penilaian itu memang menunjukkan hasil yang berbeda dengan penilaian versi juri PPBI. Apalagi, masing-masing pengamat melakukan penilaian secara sendiri-sendiri, tidak ada rapat kesepakatan. Beberapa bonsai yang selama ini disebut-sebut bergaya “kontemporer” berhasil memikat perhatian pengamat. Itu sebabnya, Sulistiyanto Suyoso tercatat paling banyak menerima penghargaan, yakni 5 (lima) bonsainya terpilih oleh 3 pengamat. (Hasil selengkapnya lihat tabel penilaian, red)

Sigit Margono menyatakan, bahwa penilaian yang dia lakukan berdasarkan kriteria; Kreativitas, Komposisi dan Hirarki. Lantaran aspek kretivitas itulah maka Sigit berani memilih bonsai no 15 (Lada-lada) diantara 9 pilihannya. Padahal, bonsai milik Budi Sanyoto itu jelas-jelas memiliki pot yang sangat besar, tidak sebanding dengan tanamannya. Dan ternyata, Wayan juga memilih bonsai yang sama. Apa boleh buat, bonsai yang tidak proporsional dengan potnya itu memang memiliki arti sendiri dimata pematung dan fotografer.

Teknis penilaian yang dilakukan Sigit, sangat berbeda dengan dua seniman lainnya, bahkan tidak lazim dilakukan oleh juri bonsai. Jika selama ini bonsai hanya dinilai dari tampak depannya, maka Sigit justru mengelilingi bonsai itu untuk mengetahui keseluruhan bentuknya. Itulah yang disebut hirarki. Bahwa pandangan dari depan itu disebut hirarki pertama. Berikutnya, adalah dari samping, kiri dan kanan, serta dari belakang.

Sementara dari sisi fotografis, Wayan menilai bahwa bonsai merupakan karya seni yang sangat menarik untuk dipotret. Hal ini karena bonsai merupakan produk seni yang eksotis, disamping itu memiliki angle of view yang sudah ditentukan.

Menurut staf pengajar di Unesa dan Unipa Surabaya itu, bonsai dikatakan sebagai sebuah produk seni yang eksotis karena kalau diamati secara mendalam, akan ditemukan berbagai unsur kesenirupaan di dalamnya. Mulai dari unsur garis, bidang, warna, tekstur, dan volume. Unsur-unsur itulah yang juga ditemui dalam seni fotografi. Sedangkan angle of view, sangat berperan dalam sebuah karya fotografi. Karena dengan sudut pengambilan gambar yang tepat, sebuah obyek yang difoto tersebut baru akan terwakili.

Memotret bonsai, kata Wayan, tidak semudah seperti memotret benda mati (still life photography). Karena bonsai adalah karya seni yang terdiri dari partikel dan gelombang (frekuensi). Diperlukan penghayatan yang cukup mendalam sebelum menentukan angle of view dari sebuah bonsai yang akan dipotret.

Lima syarat pemotretan bonsai adalah; Pencahayaan yang baik, Pemilihan latar belakang, Penempatan bonsai yang tepat, Pemilihan lensa yang sesuai, dan Pemahaman karakteristik bonsai. Lima hal ini sangat diperlukan sehingga bonsai yang kita potret menjadi sebuah karya foto yang memiliki getaran/gelombang seperti pada saat kita menghayati sebuah karya bonsai yang sesungguhnya. Jadi bukan hanya sekadar foto.

Unsur kedalamannya sangat terasa, teksturnya muncul, bahkan dapat kita rasakan meliuknya dahan-dahan bonsai yang sedang tertiup sang bayu. Pemilihan lensa yang sesuai mutlak diperlukan untuk memotret bonsai, karena kalau salah dalam menentukan ukuran lenasa, bonsai yang anggun menawan akan berubah total menjadi foto bonsai yang kerdil, tidak proporsional, karena distorsi.

Estetika Salon

Pelukis Rudi Isbandi menilai, bahwa keindahan bonsai yang beraneka ragam bentuk, jenis dan karakter dalam pameran ini, dapat dimasukkan dalam jenis Salonian. Artinya, keindahan yang terbentuk dalam olah kreatif pecinta bonsai itu mengacu pada estetika salon.

Ketrampilan teknis yang dipertaruhkan pada rupa/bentuk yang serba molek, mungil, unik dan penuh control tersebut, menggambarkan imaji penciptaan pertumbuhan bonsai yang berwibawa (grandeur), penderitaan/kesengsaraan (miserable), unik dan spesifik, atau mungil dan cantik. Tidak ada yang mengolah atau menggarap bentuk bonsai yang liar tapi alami (natural).

Bonsai-bonsai jenis salonian memang memperlihatkan kesabaran olah kreatif yang tinggi, namun sesungguhnya juga menyimpan makna perkosaan pada pertumbuhan tanaman tersebut secara berlebihan.

Sesungguhnya salonian juga terjadi pada fotografi dan seni rupa. Namun karena keduanya bukan obyek yang hidup, maka aspek sadisme tidak terkesan nyata (ilusif). Oleh karena itu yang menjadi esensi yang sebenarnya kesabaran olah kreatif yang matang dan tidak deksuro (otoriter). Sehingga konsepnya bukan antroposentris tetapi lebih bersifat humanism dan ekologis. – henri nc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: