Bonsai Menurut Fotografi

Karena Mata Tidak Setajam Lensa

Fotografi memiliki peran yang sangat besar dalam seni bonsai. Bukan sekadar mengabadikan bonsai dalam bentuk foto, namun baik tidaknya sebuah bonsai dapat diketahui melalui foto. Seorang pebonsai yang baik, seharusnya juga menguasai ilmu fotografi. Dalam pertemuan rutin PPBI Cabang Sidoarjo di kebun Husny Bahasuan (17/5), dihadirkan seniman fotografi, dosen Unesa dan Unipa Surabaya, Wayan Setiadarma. Menurut Wayan, meski sama-sama tiga dimensi, memotret bonsai berbeda dengan memotret patung. Karena bonsai adalah benda hidup, yang memiliki karakter keras, lembut atau mengesankan sedang bergerak.

Karakter keras misalnya, terlihat pada teksturnya, ketajaman garis daun atau urat-uratnya. Semuanya itu harus dimunculkan dalam foto agar karakternya tetap terlihat. Demikian pula karakter lembut, yang ditunjukkan oleh desain kanopinya, lekuk liku cabang dan rantingnya, serta penampilan keseluruhan yang teduh.

Pada bonsai windswept misalnya. Agar kesan tertiup angin itu semakin kentara maka diperlukan background yang berupa garis-garis. Background tidak harus selalu berwarna hitam. Tergantung kesan apa yang hendak dihadirkan. Warna hitam memang cenderung menghadirkan kesan kontras dengan warna bonsai, namun kalau ternyata hitam malah membuat bonsai kurang bagus kesannya, tentunya harus menggunakan warna lain.

Apa penggunaan background itu wajib? Tergantung keperluannya. Kalau hanya sekadar foto untuk keperluan pemberitaan misalnya, mungkin tidak mutlak menggunakan background. Tetapi kalau diinginkan foto yang bagus, apalagi untuk dimuat di buku katalog, bahkan untuk dilombakan, maka background menjadi faktor penting yang harus diperhitungkan.

Bukan hanya background, namun juga pencahayaan, serta hal-hal teknis terkait dengan teknologi kamera, seperti jenis lensa dan sebagainya. Memang, hal-hal seperti itu tidak harus dikuasai oleh pemilik bonsai. Mereka bisa saja tinggal membawa bonsainya dan menyerahkan sepenuhnya ke fotografer. Tetapi, setidaknya pemahaman fotografi itu tetap penting diketahui oleh pemilik bonsai.

Apalagi, selama ini kontes bonsai yang melibatkan berbagai negara justru dilakukan hanya dengan mengirim fotonya saja. Rekayasa fotografi memang tidak diperbolehkan, namun bagaimana memotret dengan baik agar bonsainya juga tetap atau menjadi lebih baik, diperlukan ketrampilan fotografi yang memadai.

Lewat pemotretan, mampu diciptakan kesan apakah bonsai akan menjadi terlihat lebih baik atau malah lebih jelek dibanding aslinya.

Sudut Pandang

Satu hal penting keterkaitan fotografi dengan bonsai adalah soal sudut pandang (point of view). Selama ini kalangan penggemar bonsai selalu menetapkan “tampak depannya”. Yaitu, sudut pandang yang diharuskan untuk menikmati bonsai tersebut. Dalam istilah seni patung, menurut seniman patung Sigit Margono, tampak depan itulah yang disebut Hirarki Satu. Dimana dari arah itulah yang ditentukan untuk menikmati keindahan patung tersebut.

Sementara itu, dalam disiplin fotografi, juga dikenal apa yang disebut sudut pandang tersebut. Fotografer akan memilih, mana sudut pandang yang tepat untuk melakukan pengambilan gambar. Kalau hanya sekadar mendokumentasikan bonsai, bisa saja fotografer melakukan pemotretan dengan memilih sudut pengambilan sebagaimana tampak depan bonsai tersebut. Pertanyaannya, apakah betul bahwa sudut pandang itu sudah menjadi pilihan terbaik?

Fotografer boleh saja mencoba sudut pandang lain yang berbeda dengan yang sudah ditentukan pemilik bonsai. Bahkan, menurut Sulistiyanto Suyoso, fotografer bisa membantu pebonsai untuk menentukan tampak depan, flat atau tidak, sehingga bonsai mampu lebih berbicara.

Penentuan tampak depan ini memang kadang sudah ditentukan oleh pemilik bonsai ketika bonsai masih berupa bakalan. Karena penentuan itu menjadi pedoman bagaimana dia melakukan training, program, sampai akhirnya mencapai bentuk yang diinginkan. Hanya saja, bukan tidak mungkin “wajah bonsai” itu bisa berubah dalam proses pertumbuhannya. Wajah ketika masih bakalan, bukan tidak mungkin berubah ketika bonsaia dewasa.

Itu sebabnya, seniman bonsai Wahjudi D. Sutomo, menyarankan agar bonsai dipotret sejak masih bakalan, dan dilakukan secara bertahap, sampai dengan bonsai itu dinyatakan sudah jadi. Sebab, bagi Wahjudi, foto itu merupakan alat kontrol yang baik. Dengan menatap foto bonsai, kita akan menjadi lebih cermat mengamatinya. “Sebab mata kita tidak setajam lensa kamera,” ujar pemain bonsai senior itu.

Bonsai, memang beda dengan patung (benda mati). Sebagai mahluk hidup, pohon punya kemauan sendiri. Sedangkan seniman bonsai juga punya kemauan sendiri. Karena tu, menurut Wahjudi, bonsai adalah gabungan antara keindahan alam (ciptaan Tuhan) dan keindahan seni (ciptaan manusia). – henri nc

Sumber: Majalah GREEN Hobby, edisi X/Juni-Juli 2008

One Response

  1. dosenku . . .
    ternyata dia juga suka bonsai hhoohohohoho

    emang iya sih kalo misalnya fotonya jelek, tapi aslinya baguskan kasian bonsainya ga kesaring . . . .
    jadi ga pop deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: