Agus Wijanarko Meninggal Dunia

almarhum.jpgSalah satu trainer bonsai handal kebanggaan Jatim dan anggota PPBI Cabang Sidoarjo, Agus Wijanarko, meninggal dunia Rabu pagi, 17 Oktober 2007, pukul 06.00, dalam usia 46 tahun. Almarhum menderita penyakit lever, sudah cukup parah, terakhir opname di RS Arofah Mojosari, Mojokerto, selama 8 hari. Menjelang Lebaran kemarin, almarhum minta ijin pulang, dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir di rumahnya, kawasan wisata pemandian Ubalan, Pacet, Mojokerto. Almarhum langsung dimakamkan saat itu juga di desanya.

ibunda.jpgLahir di Surabaya, 13 Agustus 1961, dari ayah seorang TNI/AD Batalyon Sikatan asal Pacet, dan ibu dari Tulungagung. Ayahnya sudah meninggal dunia 2 Februari 1973, sedangkan ibunya (72 tahun) masih bersama anak cucunya di Pacet. Semula keluarga mereka tinggal di kompleks Kodam, Jl. Gajahmada, kembali lagi ke Pacet tahun 1966. Agus adalah anak kelima dari 9 bersaudara. Empat perempuan, lima laki-laki. Dua orang diantaranya tinggal di Surabaya, seorang Jakarta, sisanya berdomisi di desa Pacet.

 

totok.jpgMenurut Hadi Subroto alias Totok (55), kakak sulung almarhum, sebetulnya Agus pernah mengalami frustrasi berat ketika istrinya (Liana) pergi tanpa jejak sekitar tahun 1986. Padahal, waktu itu sudah ada buah hatinya, seorang anak laki-laki bernama Angga. Hingga sekarang, tidak diketahui keberadaan mereka. Totoklah yang kemudian menyarankan agar Agus menekuni tanaman hias, yang ternyata dilakukannya hingga ajal menjemputnya.

Sekitar dua tahun kemudian, Agus menikah lagi dengan Siami, janda beranak satu dari desanya sendiri. Dari isteri kedua ini, lahirlah seorang puteri, bernama Riska Tanami, yang sekarang baru saja masuk di Fakultas Ekonomi Universitas Surabaya (Ubaya). Sang isteri itulah yang sehari-hari ikut terjun langsung mengurusi bisnis tanaman hias dan bonsai, dan hanya dibantu satu orang karyawan.

isteri.jpgKuat dugaan, penyakit yang dideritanya akibat almarhum terlalu keras bekerja, tidak mengenal capek. Bahkan dua tahun belakangan ini selalu naik motor dari Gresik atau Surabaya, seringkali sampai larut malam. “Padahal dulu dia biasanya kalau bekerja di Surabaya atau Gresik selalu menginap dan pulang dengan kendaraan umum,” kenang Totok. “Mungkin fisiknya kaget,” tambahnya.

Pagi itu, konon almarhum masih sempat minta es jus. Namun sekitar pukul 06.00 kurang beberapa menit, Totok dikabari bahwa Agus sudah koma. Sang kakak sempat menuntunnya membaca syahadat, dan Agus pun pergi untuk selama-lamanya.

heru.jpgSementara itu, Heru Subiantoro (51), anak ketiga dari saudara kandung almarhum, memberikan kesan bahwa adiknya itu terlalu keras bekerja. “Dia sering kewalahan membagi waktu dan merasa kesulitan untuk melimpahkan pekerjaannya pada orang lain,” kata Kepala Sekolah SMP I Jatirejo ini.

Menurutnya, pekerjaan yang dilakukan almarhum, terutama yang berkaitan dengan bonsai, memang sulit dikerjakan orang lain. Dia terpaksa harus turun tangan sendiri. Jiwa sosialnya juga sangat tinggi. Sampai-sampai anak-anak sekitar terminal dikumpulkan di kebunnya, diajari merawat bonsai. “Almarhum kagum sekali pada sosok Kimura dan Robert Steven,” kisah Heru. Dikisahkan, almarhum pernah cerita, bahwa Robert itu pembonsai yang idealis, tidak komersil, dan berani menghadapi tantangan orang-orang yang tidak sejalan dengannya.

Heru masih ingat, almarhum dulu sulit sekali kalau disuruh periksa ke dokter, apalagi sampai opname di rumahsakit. Kalau toh kemudian dia sempat opname, “nampaknya almarhum hanya sekadar menyenangkan isteri dan keluarganya saja,” ujar Heru.

Patut Diteladani

Diantara kalangan penggemar bonsai yang ikut melayat, sama-sama sepaham bahwa almarhum memang sosok yang memiliki dedikasi luar biasa. “Dia adalah figur yang patut diteladani,” ujar Sulistyanto Soejoso. Kerja keras almarhum, menurut Sulistyanto, adalah cambuk bagi orang lain. “Banyak bekerja, sedikit bicara,” komentar Wira Manggala.

Sedangkan Deddy, mengenang almarhum sebagai trainer yang serius. Dia bahkan sudah melakukan training bonsai (juga dengan wiring, pengawatan) langsung di lahan pembesaran di kebunnya.

Syaiful Arief, sesama trainer bonsai, menaruh hormat atas kerja keras almarhum. Dia bukan sekadar melakukan training, namun rajin membudidayakan sendiri. Almarhum sangat menyukai gaya natural, lantaran menganggap bahwa alam adalah guru terbaiknya.

Dan sekarang, sosok yang dedikatif itu telah pergi untuk selama-lamanya. Di kebun dan halaman rumahnya terhampar beraneka tanaman hias dan sekian banyak bonsai koleksinya. Sebuah gazebo ke kebunnya menjadi saksi bisu, di situlah almarhum sering bercengkerama dengan sesama penggemar bonsai, seringkali sampai menjelang dini hari. Di tempat itu pula almarhum menggelar kursus gratis sebulan sekali, tentang teknik bagaimana memahami bonsai.

”Mengapa orang-orang baik seringkali terlalu cepat pergi….?” tanya Sulistiyanto. -hnc

satu.jpg dua.jpg

empat.jpg tiga.jpg
lima.jpg enam.jpg

3 Responses

  1. Teman-teman Bonsai Ponorogo turut berduka atas meninggalnya Agus Wijanarko. Semoga arwah almarhum diterima disisi-Nya.

  2. Turut berduka cita atas meninggalnya bpk Agus Wijanarko, semoga amal dan kebaikannya selama ini berguna bagi penggemar bonsai di manapun dan segala kesalahannya mendapat ampunan Tuhan.
    Teman teman, keluarga dan kerabat yang ditinggalkan mendapat ketenangan jiwa dan kebesaran hati menerima semua ini.
    Sekali lagi kami turut berduka cita, semoga beliau diterima disisiNya.Amin

  3. Turut berduka cita atas meninggalnya Bp. Augs Wijanarko. Semoga yang ditinggalkan mendapatkan ketabahan.
    Jonathan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: