Belajar dari Pengalaman Rawat Bonsai

Pertemuan PPBI Cabang Sidoarjo kali ini, digelar dengan agenda berupa pendidikan kilat (diklat) tentang tatacara merawat bonsai. Wawang Sawala, dari seksi pendidikan, yang tampil sebagai narasumber langsung mengajak peserta pertemuan di kebun Husni Bahasuan di kawasan Bintang Diponggo Surabaya itu (12/1) untuk secara bersama-sama mengkaji dan melakukan training dengan bakalan bonsai yang tersedia.

Pohon rempelas, bakalan pertama yang disediakan, selama ini dikenal ada dua jenis. Yaitu yang memiliki daun runcing, ada yang bergerigi. Menurut pengalaman Syaiful Arief, seorang trainer yang ikut hadir menyampaikan pengalamannya, bahwa daun rempelas sulit dibuat menjadi ukuran kecil yang proporsional dengan batangnya. Jadi untuk membuat proporsional harus diperbesar dulu batangnya.

Kata Wawang, pohon Rempelas memang sangat jarang muncul di pameran. Diakuinya, dia tidak memiliki pengalaman melakukan training rempelas. Kebetulan, bakalan milik Husni Bahasuan ini memiliki batang majemuk, atau bergaya clumb. Maka diskusipun berlangsung seru, tentang bagian mana yang harus dipotong. Masing-masing orang memiliki pendapat sendiri, bahkan cenderung berseberangan.

Pengenalan jenis tanaman ini memang penting. Sebab, menurut Wawang, tiap jenis tanaman membutuhkan perlakuan yang berbeda satu sama lain. Ketika menghadapi bakalan bonsai, katanya, sebaiknya tidak berpikir tentang gaya apa yang akan diterapkan. Perhatikan baik-baik bakalan tersebut, lantas tentukan center of point, yaitu memilih bagian yang paling menarik untuk ditonjolkan sebagai tampak depannya.

Pentingnya Media

Satu hal yang sangat mendasar untuk para pemula, adalah bagaimana menguasai media bonsai itu sendiri. Sebab, meski bonsai adalah sebuah karya seni rupa, namun kalau ternyata tidak tumbuh subur dan sehat, maka tidak layak disebut bonsai yang bagus. Salah satu aspek kesehatan dan kesuburan itu adalah bagaimana medianya yang pas untuk bonsai.

Perhatian terhadap media itu sudah harus dilakukan sejak masih berada di habitat aslinya. Itu kalau mendapatkan bakalan dengan cara berburu. Menurut pengalaman, untuk mendapatkan Cemara Udang harus menyertakan juga tanah asalnya. Ketika kemudian ditanam dalam pot, cemara atau tanaman pantai lainnya, gunakan pasir dengan porsi lebih banyak, dengan perbandingan 3:1 (pasir : humus).

Ada pengalaman lain, bahwa Santigi, pada awalnya tidak boleh menggunakan pupuk organik. Menurut Wawang, hal ini karena lebih banyak risiko yang timbul karena pupuk organik dikhawatirkan tidak steril. Apalagi sebagai tanaman baru rentan penyakit. ”Medianya pakai pasir saja 100 persen,” ujar Wawang.

Sesekali boleh dilakukan penyiraman dengan pupuk organik, namun dalam konsentrasi yang sangat encer, misalnya dengan B-1.

Disarankan, bakalan yang baru diambil dari alam, jangan terkena langsung terkena sinar matahari, tapi juga jangan ditempatkan di tempat gelap. Cukup di tempat teduh, dan secara bertahap digeser ke tempat yang terkena sinar matahari. Kalau terus berada di tempat gelap akan menyulitkan adaptasi, sehingga kalau nanti terkena panas malah langsung mati.

Sebagai tanaman baru, juga disarankan agar melakukan pengurangan daun untuk mencegah penguapan. Peletakan batang sedemikian rupa, yang kokoh, agar tidak goyang.

Penyiraman tidak usah dilakukan selama medianya sudah lembab, cukup dikerudungi saja. Kalau sudah tidak ada pengembunan, baru disiram.

Pengerodongan dengan plastik transparan selain dimaksudkan untuk menghindari penguapan, juga merangsang tumbuhnya tunas, setelah sebelumnya disiram dengan perangsang akar dengan konsentrasi rendah.

Namun berdasarkan pengalaman lain, kerodong plastik ada bahayanya, karena begitu dibuka masih butuh adaptasi lagi. Ada yang lebih suka pakai paranet, yang alamiah saja, asal rajin diperiksa, maka bakalan bakal tumbuh subur. Waspadai jamur di musim hujan, semprot dengan fungisida sebelum parah.

Soal penyiraman, sulit menentukan resep tepat berapa kali penyiraman. Tergantung cuaca, udara dan sebagainya. Sebaiknya dipelajari berdasarkan pengalaman teman-teman yang sudah melakukannya. Yang jelas, jika medianya terlalu halus, penyiraman cukup seminggu 1 – 2 kali. Kalau porous, bisa beberapa kali. Cara mengukurnya, kalau disiram cepat habis, berarti butuh penyiraman lebih sering.

Penggunaan pupuk bisa juga memilih jenis yang slow release, yaitu yang larut sedikit sedikit, misalnya srintil atau kotoran kambing. Untuk pupuk halus, tempatkan di atas media, sedikit ditutupi media, tapi jangan diaduk, supaya tidak langsung menurun ke dasar pot. Sebab secara alami pupuk halus akan menurun seiring dengan frekensi penyiraman. -hnc
(Majalah GREEN Hobby, edisi 6/Januari-Februari 2008)

About these ads

5 Responses

  1. Salam Bonsai & Bahagia selalu.
    Mari maju BONSAI INDONESIA, karena kita BANGGA sebagai SENIMAN BONSAI INDONESIA!!!
    Salam & SELAMAT BERKARYA

    Tedy Boy – Bonsai – Bandung
    http://www.tedyboybonsai.blogspot.com

  2. Salam buat PPBI cab sidoarjo. Sy kagum dg anda semua

  3. Bravo bonsai Indonesia. Maju terus seniman bonsai indonesia. Spy bonsai indonesia mjd barometer bonsai dunia.
    Salam Samsbonsai

    http://samsbonsai.co.cc/

  4. ada yg tau alamat PPBI Jakarta nggak??

  5. mantap… MAJU TERUS SENIMAN BONSAI INDONESIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: